Dan pertanyaan ini jauh menembus kepada kekedalaman diri. Kembali bertanya, “Sudahkah kita teruji dalam ujian-ujian-NYA ?”
Siapakah manusia yang berani melakukan klaim sebagai seorang spiritualis, sementara belum jelas datang ujian pada dirinya ?
Maka dia berjalan dimuka bumi ini dengan “sombong !”.
Marilah kita buka cakrawala ingatan, yang berkabut saat temaram. Membuka tabir hati, yang sembunyi di balik ego diri, yang telah di bingkai oleh angan dan logika-logika yang kadang malah menyesatkan. Selimut hati meski kita singkap. Marilah kita telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam di dalam hati kita.
Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, “ Apakah kita sudah ber Iman ?”
Pertanyaan ini bergulir di depan. Menjadi kontradiksi di dalam. Bilamanakah kita dapat di sebut ber Iman ?
Di antara manusia ada yang mengatakan:
“Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. Al baqoroh 8-12)
Astagfirullah..bilakah Aku (kita) demikian..?
Diri terjebak mengaku-ngaku. Diri tidak sadar mengatakan telah ber iman padahal sejatinya diri (aku) tidak ber iman.
Apakah yang terlintas..?
Siapakah yang tahu kalau kita ber iman atau tidak..?
Kalau kita sendiri tidak sadar jikalau kita merasa tidak melakukan hal begitu..?
Kita tidak sadar sedang menipu diri kita sendiri.
Bagaimanakah ini..? Bagaimanakah ber iman..?
Manusia akan merasa sangat ber iman, ketika dia rajin mengamalkan ibadah ini, mengamalkan amalan itu, sholat ini, sholat itu, puasa ini dan puasa itu. Ribuan wirid, ribuan sholat, bertahun-tahun beribadah, tidak pernah tidur, hingga kurus kering, mata sayu dan lain sebagainya. Sungguh manusia kemudian akan menghitung-hitung amal baiknya tersebut.
Sehingga diri merasa benar-benar telah suci, lebih ber iman dari siapapun, lebih bersih dari siapapun. Hingga kepada ’merasa’ lebih spiritualis dari manusia lainnya.Manusia itu kemudian melihat sinis kepada manusia lain yang tidak melakukan hal yang sama. Menganggap remeh kepada orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya, yang tidak melakukan ibadah yang sama dengan dirinya.
Manusia itu, kemudian akan merendahkan amalan manusia lainnya. Manusia itu, kemudian akan membangga-banggakan amal ibadahnya sendiri. Lihatlah bagaimana sepak terjang kaum Khawaritj. Dan juga lihatlah juga apa yang terjadi di negri ini, suatu kelompok yang senang main ‘hakim’ sendiri.
Inilah bahayanya, jebakan ini senantiasa mengintai. Jembakan para penempuh jalan spiritual.Lintasan ego diri, lintasan telah bersih, telah ber iman, dan lain sebagainya, adalah lintasan hati. Bagaimana membedakannya..?. Bilakah kita terjebak..?
Semua pertanyaan dan lintasan di hati tersebut, sesungguhnya terjawab ketika manusia mengalami ujian. Ketika manusia di hadapkan kepada kesulitan-kesulitan hidup. Di hadapkan kepada perintah dan larangan-larangan Allah.
Di hadapkan kepada sesuatu yang tidak di sukainya. Lihatlah bagaimana kesudahannya, bagaimanakah kegundahan hatinya saat mengalami ujian. Adakah manusia itu masih tetap dalam keyakinan, tetap dalam pendiriannya ; berserah diri kepada Allah.
Tetap mengatakan “Sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam ?”. Ataukah dia akan berbalik seratus delapan puluh derajat, lari membelakangi Allah, sebagaimana Iblis?
“ Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran) (QS. Al A’raf [7] : 168)
Diantara mereka itu, semua akan teruji, semua akan diuji , lintasan hati akan teruji, ketika manusia mengalami cobaan hidupnya. Ketika manusia mengalami ketakutan, kesengsaraan, mengalami kehilangan kesakitan dan lain sebagainya.
Semua juga akan ter uji ketika manusia itu mengalami kesenangan dunia berlebihan, semua itu akan terbukti bagaimana akhirnya. Apakah benar dia ber iman atau tidak. Semua pasti terjawab dan diri sendirilah yang tahu, dia akan ditunjukkan oleh Allah. Ditunjukkan siapa sejatinya dirinya.
Maka kembalinya terserah padanya akan mengkuti jalan yang mana. Siapakah nantinya orang yang shaleh, siapakah nantinya yang tidak demikian.
Orang yang shaleh atau tidak bukanlah ditentukan saat startnya atau di tentukan bagaimanai sekarang ini. Orang shaleh dan tidaknya, (spiritualis dan bukannya), bukan di tentukan oleh apakah dia di lahirkan dari rahim seorang ulama besar ataukah di lahirkan dari rahim pelacur tua. Namun,
Semua manusia di nilai dari perjuangan hidupnya, perjuangan menuju kepada kebenaran, perjuangan menuju kepada jalan yang lurus, semua akan (nampak) ditentukan bagaimana pada saat kematiannya. Apakah dia berserah kepada Allah atau berserah kepada selain Allah. Semua akan teruji.
Dan semua akan nampak sebagai perilaku ’akhlak’ di dunia ini. Seorang spiritualis tidak berjalan dimuka bumi dengan kesombongannya. Apalagi ‘melecehkan’ manusia lainnya.
Adalah Lintasan hati
Ketika manusia di uji, (dan semua manusia akan di uji) manusia tersebut akan mengetahui bagaimana lintasan-lintasan hatinya. Sangat jelas sekali perbedaannya apakah ber iman atau tidak. Hatinya akan mengetahui. Disana ada ‘bashiroh’ yang akan selalu menunjukkan siapa sejatinya dirinya itu. Menjadi pembeda (furqon).
Maka selanjutnya berlangsung pertempuran di hati, apakah dia akan mengikuti jalan kefasikan, mencari jalan termudah, dengansegala cara , tidak peduli halal atau haram yang penting dirinya terbebas dari kesulitan hidup. Ataukah tetap mengikuti jalan ketakwaan, dengan bersandar kepada Allah. Berserah kepada maunya Allah. Mengikuti kemana saja raga akan di perjalankan oleh Allah. Kembalinya terserah kita.
Inilah jalan terjal lagi sukar. Pendakian yang sudah tak tentu bagaimana akhirnya!Penempuh jalan spiritual akan selalu berkaca pada hatinya, akan selalu berdialog dengan hatinya. Akan selalu kontemplasi, akan selalu melakukan eksplorasi di jiwa, memperjalankan akal dan fikirannya. Ber dzikir berdialog dengan Tuhannya, mencari jawaban atas semua lintasan hatinya.
Ketika diam menjerat aku ke dalam ruang hampa
Angin berhembus, tajam mengiris, menusuk rembulan
BayanganMu seperti lenyap disapu gelombang
Perahuku terombang-ambing dan tenggelam.
Ketika hening merenggut aku ke dalam galau jiwa
Suara ranting meronta-ronta, merobek mentari
DekapanMu masih terasa hangat dalam darah
Bintang-gemintang bersembunyi dalam kelam
Kosong, pikiran hampa menerawang
Kosong, langit terasa semakin gelap
Entah bermimpi tentang apa, terpenggal-penggal
Entah sujud kepada siapa aku berserah
Kosong, pikiran hampa menerawang
Kosong, langit terasa semakin gelap
Mestinya aku hanya diam dalam tawakal
atau kuurai air mata dalam sembahyang
atau kuurai air mata dalam sembahyang
(Kosong by Ebiet G Ade)
Hanyalah kekosongan itu sendiri. Hanya mengamati dan menikmati jalannya kehidupan. Mengagungkan setiap asma-NYA. Hidup dalam takdirnya sendiri. Bersyukur telah diberkati rahsa untuk menikmati. Semua indah dalam liputan-NYA.
Bagi para penempuh jalan kebenaran. Layak berhati-hati.
salam
Source kompasiana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar